● CahyakusumA™ Zone ●

Avatar Welcome to my Zone. This zone dedicated to all of my family, Trem 221e crew, my lovely Vidya n of course to all bloggers and branding geek. Enjoy it..

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Lagu iklan Mizone

Setelah sekian lama libur akibat komputer yang ketumpahan jamu
(kok bisa??) akhirnya kembali online..

Tapi.., kali ini Mr.Cahya Cakep nulis dikit aja yaah.. soalnya masih ada yang harus dikerjain (first thing first! hehe)

Pada males kalo lagi asik nonton tv trus kepotong iklan kan? Nah tapi untuk kasus tertentu, kehadiran iklan yang punya "stoping power" cukup bisa membuat perhatian mendadak berubah dari keinginan untuk mengganti chanel tv.

Postingan saya kali ini masih memiliki tema yang sama dengan postingan yang pernah saya tulis sebelumnya tentang lagu iklan sprite.. selengkapnya bisa dibaca disini

Nah kali ini iklan yang dibahas adalah iklan Mizone

emang kenapa dengan iklan mizone? Gapapa.. lagunya enaaak!!

Buat yang setuju ni kukasi "bocoran"
itu lagunya The Ting Tings judulnya Great DJ

nah yang suka lagunya buruan cari di mbah google trus download deh.. selamat menikmati
udah ah..

[+/-] Read More...

klik untuk Send to Facebook (jangan lupa yah)

Istilah dalam Forum

Cuma pengen sharing beberapa istilah yang sering digunakan dalam forum. Semoga membantu :D

CMIIW
singkatan dari "Correct Me If I'm Wrong" yang kira-kira berarti "Mohon Perbaikannya Jika Saya Salah".

COPAS
singkatan dari "Copy Paste"

FYI
singkatan dari "For Your Information" - artinya "Sebagai Informasi Untuk Anda"

IMHO
singkatan dari "In My Humble Opinion" - artinya "Menurut Opini Saya"

JAPRI
singkatan dari "Jalur Pribadi", artinya mengirimkan email secara personal kepada seseorang. Tidak ke milis atau group (seluruh anggota).

Milis Singkatan dari "Mailing List"

NUJU Numpang Jualan

OOT "Out Of Topic", yang artinya "Di Luar Topik"

SOL Sooner Or Later - Cepat atau Lambat

WTA Want To Ask - Ingin Bertanya

WTB Want To Buy - Ingin Membeli

WTI Want To Inform - Ingin Menginformasikan

WTS Want To Sell - Ingin Menjual

Hmm apa lagi yah? itu dulu aja deh.. kalo ada yang mau ditanyain atau sharing dan nambahin, mohon komentarnya yah...

[+/-] Read More...

klik untuk Send to Facebook (jangan lupa yah)

Sleep Dragon

Biografi

Nama Asli : Zhuge Liang
Nama Lain : Zhuge Kongming
Julukan : Naga Tidur
Istri : Huang Yue Ying
Ayah : Zhuge Gui
Ibu : (hanya diketahui bermarga Zhang)
Paman : Zhuge Xuan
Saudara : Zhuge Jin (abang), Zhuge Jun (adik)
Sepupu : Zhuge Dan (adik)
Anak : Zhuge Zhan
Anak Angkat : Zhuge Qiao
Cucu : Zhuge Shang
Cucu dari anak angkat : Zhuge Pan
Kemenakan : Zhuge Ke
Mengabdi pada : Liu Bei, Liu Chan
Lahir : 181
Meninggal : 234

Zhuge Liang (Hanzi: 诸葛亮)(181–234) adalah seorang ahli strategi Tiongkok yang terkenal sangat cerdik. Ia adalah ahli strategi bagi Liu Bei. Bernama lengkap Zhuge Kongming, dikenal juga sebagai Cukat Liang di kalangan Tionghoa Indonesia. Zhuge Liang adalah ahli strategi militer dari negara Han pada zaman Tiga Negara (220-280 A.D.). Dia acapkali dilukiskan sedang memakai sebuah jubah dan memegang kipas yang terbuat dari bulu burung bangau.

Ia mengikuti Liu Bei setelah Liu Bei dan kedua adik angkatnya membuat tiga kunjungan untuk menjemputnya menjadi ahli strategi negeri Shu. Terharu dengan keikhlasan dan kemurnian hati Liu Bei yang menangis karena mengenangkan nasib rakyat di zaman peperangan itu, maka ia menghambakan diri kepada Liu Bei.

Nasihat pertama yang diberikannya secara pribadi kepada Liu Bei adalah “Longzhong Plan”, yaitu tentang pendirian tiga negara besar di tanah Tiongkok, yaitu Wei, Wu dan Shu. Nasihat pertama Zhuge Liang ini menjadi kenyataan setelah beberapa tahun membantu Liu Bei di dalam peperangan untuk menegakkan dinasti Han yang telah rapuh.
Kebesarannya menyebabkan ia digelari salah satu dari 6 perdana menteri terbesar dalam sejarah Tiongkok.

Sampai usia 9 tahun, Zhuge Liang masih tidak dapat berbicara. Ia hidup dalam keluarga yang sangat miskin. Ayahnya seringkali menyuruh dia menggembalakan domba di dekat sebuah bukit di sebuah gunung. Di atas gunung tersebut terdapat sebuah kuil dimana seorang Pendeta Tao tua tinggal.

Setiap hari Pendeta berambut uban ini berjalan santai di luar kuil. Suatu ketika, ia berjumpa Zhuge Liang. Dia lantas mencoba berkomunikasi dengan anak laki-laki tersebut, menggunakan isyarat tangan. Zhuge Liang ternyata senang berusaha “berkomunikasi” dengan Pendeta Tao menggunakan isyarat tangan. Perlahan, Pendeta Tao mulai mengobati masalah kebisuan anak laki-laki itu.

Zhuge Liang merasa sangat gembira ketika tahu bahwa akhirnya dia bisa berbicara. Dia pergi mendaki menuju ke kuil Pendeta Tao tersebut untuk mengucapkan terima kasih. Pendeta Tao tersebut kemudian mengatakan sesuatu;
“Jika kau pulang ke rumah, katakan pada orang tuamu bahwa saya mengangkatmu sebagai murid dan saya akan mengajari kamu membaca. Saya juga akan mengajarimu seni astronomi, geografi dan menerapkan teori Ying dan Yang di dalam strategi militer. Jika orang tuamu setuju, kamu harus hadir di sekolah setiap hari dan kamu tidak boleh membolos!”

Sejak saat itu, Zhuge Liang menjadi murid Pendeta Tao tua tersebut. Tak peduli hujan maupun panas, Zhuge Liang tetap akan mendaki gunung untuk menerima pelajarannya. Selain pintar dan rajin, ia sangat serius dalam pelajarannya. Zhuge Liang juga mempunyai daya ingat yang sangat tajam. Pendeta Tao tersebut tidak pernah harus mengajari segala sesuatunya sampai dua kali. Dengan sendirinya Pendeta Tao tersebut menjadi semakin menyayanginya.

Delapan tahun berlalu dengan cepatnya dan Zhuge Liang menjadi seorang remaja.
Suatu hari Zhuge Liang seperti biasanya turun gunung. Dalam perjalanannya, ia melewati sebuah biara yang telah ditinggalkan, terletak di tengah-tengah gunung. Tiba-tiba datang hembusan angin yang sangat kuat, diikuti dengan badai petir. Zhuge Liang tidak mempunyai pilihan lain selain berlari masuk ke dalam biara itu untuk menghindari badai. Di sana ada seorang wanita muda yang belum pernah dijumpainya, keluar untuk bertemu dengannya. Wanita itu memiliki sepasang mata yang besar dan alis yang tipis. Ia begitu cantik sampai-sampai Zhuge Liang hampir salah mengiranya sebagai seorang dewi. Zhuge Liang sangat tertarik dengan wanita muda tersebut.

Ketika badai berhenti, wanita cantik itu menemui dia di depan pintu dan berkata padanya dengan tersenyum, ”Karena sekarang kita sudah saling berjumpa. Kamu bebas untuk mampir dan menikmati secangkir teh kapanpun kau ingin beristirahat dalam perjalananmu turun atau naik ke gunung.” Begitu Zhuge Liang berjalan keluar dari biara itu, dia merasa curiga. “Mengapa saya tidak mengetahui ada orang yang tinggal di biara ini sebelumnya?” pikirnya.

Sejak hari itu, Zhuge Liang mulai sering mengunjungi biara tersebut. Setiap kali wanita cantik itu selalu menghiburnya dengan ramah tamah. Dia memasak makanan yang enak untuknya dan selalu membujuknya untuk tinggal lebih lama. Setelah makan malam mereka selalu berbincang-bincang dengan seru dan bermain catur. Dibandingkan dengan kuil Pendeta Tao, biara tersebut bagaikan surga.

Memikirkan wanita itu setiap saat mengalihkan perhatiannya dari pendidikannya dan ia pun mulai kehilangan semangat untuk belajar. Makin lama, semakin kurang pula perhatian Zhuge Liang terhadap ajaran Pendeta Tao. Dia juga menjadi pelupa dan mengalami kesulitan dalam mempelajari buku pelajaran baru.

Pendeta Tao tua itu menemukan masalahnya. Suatu hari dia memanggil Zhuge Liang dan menarik napas panjang. “Lebih mudah menghancurkan sebuah pohon daripada menanam sebuah pohon!” ujarnya. “Saya telah menyia-nyiakan banyak tahun untuk kamu!”
Zhuge Liang menundukan kepalanya karena malu dan berkata, “Guru, saya tidak akan mengecewakan anda lagi atau menyia-nyiakan ajaran anda!”

“Saya tidak mempercaimu,” kata Pendeta Tao tua. “Saya tahu kamu adalah seorang anak yang sangat cerdas, karena itu saya ingin mengobati penyakitmu dan memberimu sebuah pendidikan yang layak. Delapan tahun terakhir ini kamu telah sangat dalam pendidikanmu, jadi saya berpikir bahwa kerja keras untuk mendidikmu adalah pantas. Tetapi sekarang kamu melalaikan pendidikanmu. Bagaimanapun pandainya kamu, kamu tidak dapat kemana-mana jika kamu terus-menerus seperti ini! Sekarang kamu berjanji padaku untuk tidak akan pernah lagi mengecewakan aku. Bagaimana saya dapat mempercayai kata-katamu?”

Pendeta Tao tua melanjutkan, “Semua ada penyebabnya.” Kemudian dia menunjuk ke sebatang pohon yang terbungkus oleh banyak tumbuhan merambat yang tebal di halaman. “Lihat pohon itu,” katanya. “Mengapa kamu pikir pohon itu setengah hidup dan sedang berjuang dalam setiap pertumbuhannya?”
“Tanaman merambat yang melilit pohon menghalangi pertumbuhannya!” jawab Zhuge Liang.
“Tepat sekali! Pohon ini mengalami kesulitan untuk tumbuh di gunung cadas dengan tanah yang sedikit ini. Tetapi dia tetap tumbuh karena dia teguh untuk mengembangkan akar dan cabangnya. Dia tidak takut udara panas maupun dingin. Tetapi, ketika tanaman merambat membungkusnya, dia tidak dapat tumbuh lebih tinggi lagi. Lucukan bagaimana tanaman merambat yang lembut itu bisa mengalahkan pohon yang tinggi dan tegap itu!”

Zhuge Liang yang sangat cerdas dengan segera memahami apa yang dimaksud oleh gurunya. Ia kemudian bertanya, “Guru, anda mengetahui kunjungan saya ke biara itu”
Pendeta Tao tua berkata, “Hidup di dekat air, seseorang akan mempelajari sifat alami ikan. Hidup di gunung, seseorang akan mempelajari bahasa burung. Saya telah mengamati kamu dan tingkah lakumu. Bagaimana mungkin hubungan asmaramu luput dari perhatianku?”

Pendeta tersebut berhenti sebentar sebelum memberitahukan muridnya dengan tatapan yang serius, “Biar kuberitahu kamu kebenaran mengenai wanita cantik itu. Dia bukan manusia. Dia adalah burung bangau dewa di surga. Dia telah diusir keluar dari istana langit sebagai hukuman karena telah mencuri dan memakan buah persik Ratu Langit. Dia datang ke dunia manusia dan menjelma menjadi seorang wanita cantik. Dia adalah bangau dewa yang telah rusak moralnya yang tahunya hanya mencari kesenangan. Kamu telah terpedaya oleh penampilannya, kamu telah menyia-nyiakan tidak hanya waktumu saja. Jika kamu membiarkan dirimu kehilangan kemauanmu, kamu akan kehilangan segalanya! Selain itu, jika kamu tidak menuruti kehendaknya, akhirnya dia akan menyakitimu."

Sampai waktu itu Zhuge Liang baru menyadari keseriusan dari petualangannya. Dengan cemas dia meminta gurunya cara mengatasinya.
Pendeta Tao tua berkata, “Bangau dewa tersebut mempunyai kebiasaan pada tengah malam menjelma kembali ke bentuk semulanya dan terbang ke sungai langit untuk mandi. Ketika dia menjauhi biara, kamu harus masuk ke kamarnya dan bakar jubahnya. Dia mencuri jubah tersebut dari Istana Langit. Tanpa jubah, dia tidak akan dapat menjelma menjadi seorang wanita cantik.

Zhuge Liang berjanji untuk mengikuti instruksi Gurunya. Sebelum ia pergi, Gurunya memberikan sebuah tongkat dengan ukiran kepala naga di ujung atasnya. Dia memberitahu Zhuge Liang, “Ketika bangau dewa tersebut mengetahui kebakaran di dalam biara, dia akan segera terbang kembali dari sungai langit. Dia akan menyadari bahwa kamu telah membakar jubahnya dan akan menyerang kamu. Ketika itu terjadi, kau harus memukulnya dengan tongkat ini! Sangatlah penting untuk kau ingat dan mengerjakan apa yang telah aku beritahukan kepadamu!”

Tengah malam, diam-diam Zhuge Liang pergi ke biara tersebut. Dia membuka kamar wanita itu dan menemukan jubahnya di atas ranjang. Dia segera membakar jubah tersebut.
Ketika bangau dewa sedang mandi di sungai langit, tiba-tiba dia merasa jantungnya sakit. Dia melihat ke arah biara dan melihat api. Dia segera terbang ke bawah dan melihat Zhuge Liang telah membakar jubahnya. Dia menghampiri Zhuge Liang dan berusaha menyerang matanya dengan paruh. Zhuge Liang mempunyai reflek yang cepat. Dia mengangkat tongkatnya dan memukul jatuh bangau dewa. Kemudian dia menangkap ekor bangau itu. Bangau dewa itu memberontak dan berhasil meloloskan diri, tetapi dia kehilangan bulu ekornya karena Zhuge Liang.

Bangau dewa dengan ekor botaknya, menjadi sangat malu dengan penampilannya. Semenjak itu ia berhenti mandi di sungai langit. Dia juga tidak berani memasuki Istana Langit untuk mencuri jubah lagi, satu-satunya pilihan adalah tetap tinggal di dunia manusia selamanya dan hidup diantara bangau biasa.

Untuk mengingatkan dirinya sendiri akan pelajaran ini, Zhuge Liang menyimpan bulu ekor bangau itu.

Sejak hari itu, Zhuge Liang menjadi semakin rajin. Dia menghafal semua yang diajarkan oleh Gurunya dan semua buku pelajaran. Dia benar-benar menyerap apa yang telah dipelajarinya dan dapat menerapkannya dengan mudah. Setahun telah lewat. Tepat pada hari ia membakar jubah bangau dewa setahun yang lalu, pendeta Tao tua memberitahukannya dengan sebuah senyuman lebar, “Muridku, kau telah belajar dibawah pengawasanku selama sembilan tahun. Saya telah mengajarimu semua yang harus kau pelajari dan kamu telah mempelajari semua buku pelajaran di sini. Ada sebuah pepatah, “Guru membawamu ke pintu masuk, dan terserah padamu untuk berlatih kultivasi.’ Sekarang kamu berusia 18 tahun. Sudah saatnya kamu meninggalkan rumah dan mengembangkan karirmu!”

Ketika Zhuge Liang mendengar bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya, dia memohon gurunya untuk mengajarinya lagi. “Guru! Semakin banyak saya belajar, saya merasa semakin rendah hati. Saya merasa masih banyak yang harus saya pelajari dari anda!”
“Pendidikan sejati berasal dari kehidupan nyata. Kau harus belajar menerapkan pengetahuanmu didalam kehidupan dan merancang pemecahan yang berbeda untuk situasi yang berbeda! Sebagai contoh, kau telah belajar sebuah pelajaran yang penting dari pertemuanmu dengan bangau dewa, bahwa seseorang tidak seharusnya tergoda oleh nafsu atau perasaan. Ini adalah pelajaran berguna yang diperoleh dari pengalaman nyata. Dengan hal itu didalam pikiran, kamu tidak akan dibuat binggung oleh permukaan maya dari dunia ini. Berhati-hatilah dalam setiap tindakanmu. Kamu harus melihat segalanya dalam bentuk sejatinya. Ini adalah nasihat perpisahan saya kepadamu! Saya akan meninggalkanmu hari ini.”

“Guru, kemana Anda akan pergi?” dengan heran Zhuge Liang bertanya. “dimana saya dapat menemuimu atau mengunjungimu di kemudian hari?”
“Saya akan keliling dunia dan tidak akan menetap lagi.”
Tiba-tiba Zhuge Liang merasakan air mata yang hangat menetes dari matanya. Dia berkata, “Guru! Sebelum anda pergi, anda harus memberikan aku kesempatan untuk bersujud kepada anda dan berterima kasih kepada anda atas pendidikan yang telah anda berikan padaku!”
Kemudia Zhuge Liang bersujud kepada Gurunya. Ketika dia berdiri, Pendeta Tao tersebut telah menghilang.

Pendeta Tao itu meninggalkannya sebuah jubah dengan gambar patkwa. Zhuge Liang sering memikirkan Gurunya; karena itu, ia sering memakai jubah dengan gambar patkwa sebab memberikannya perasaan bahwa Gurunya berada di sampingnya.
Zhuge Liang tidak pernah lupa nasihat Gurunya, terutama nasihat perpisahannya. Dia membuat kipas dari bulu ekor bangau dewa untuk mengingatkan dirinya sendiri untuk sangat berhati-hati seumur hidupnya. Ini adalah cerita dibalik kipas bulu terkenal yang dibawa oleh Zhuge Liang.


Source: Wikipedia & Google

[+/-] Read More...

klik untuk Send to Facebook (jangan lupa yah)

Sedikit Cerita Tentang iPhone

Hahaha.. waktu liat video ini dari youtube.. lucu aja. Hmm kira-kira siapa yah yang bikin video animasinya? atau tepatnya "siapa" yah? (baca=kompetitor mungkin?)

iPhone memang tergolong dream gadget.. yah disebut dream karena tidak semua orang mampu untuk menggenggamnya dalam status "hak milik pribadi" hehe.. habis harganya cukup membuat berpikir beberapa kali (untuk aku si.. ga tau kalo yang banyak duitnya, ada yang mau beliin?)

Brand : Persepsi, pengalaman, harapan, terhadap sebuah produk, jasa, pengalaman, personal, ataupun organisasi; Merupakan gabungan dari berbagai atribut, baik secara nyata maupun tidak nyata, disimbolisasikan dalam merek dagang, dan apabila dikelola secara baik akan menciptakan nilai dan pengaruh. (Kamus Brand)

Bicara dalam konteks sebuah brand, setiap brand tentu saja memiliki sebuah "nyawa" dan kepribadian yang berbeda. Jika menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baik dan benar mungkin sebuah brand bisa di personifikasikan berbeda antara satu dengan yang lain. Jika menggunakan istilah brand mungkin tepat jika disebut Brand Association.

Brand Association: Perasaan, kepercayaan, dan pengetahuan konsumen (pelanggan) mengenai sebuah brand. Hubungan ini didapat dari pengalaman konsumen dengan brand tersebut. Ketiga hal tersebut diatas harus tetap konsisten dengan brand positioning dan keunikannya. Proses asosiasi ini bisa disandingkan dengan tokoh, karakter, sifat atau sikap tertentu. (Kamus Brand)

Nah.. yang jadi pertanyaan selanjutnya, apakah "nyawa" dari sebuah brand merupakan pencitraan yang direncanakan oleh si produsen atau merupakan hasil dari target market dan konsumen?

Ya udah, selanjutnya tonton aja ni video, hmm.. bisa jadi kasus marketing yang unik nih.. semoga memberikan inspirasi..



komentar? silahkan..

[+/-] Read More...

klik untuk Send to Facebook (jangan lupa yah)